Konsumen fanatic dan pebisnis kopi dunia mengakui bahwa luwak coffee belum ada bandingnya. Saking tingginya permintaan, untuk membeli dalam skala kiloan saja harus antre memesan (inden). Hal itu membuat luwak coffee for sale tidak pernah terdengar turun. Harganya diyakini akan tetap tinggi meski terjadi lompatan produksi.
luwak kopi memiliki rasa seimbang antara manis, pahit dan asam, terasa lebih lama, “fruty”, tidak cacat, tidak “earthy” karena penjaminan kebersihan saat pengumpulan biji kopi. Selain itu kandungan protein yang rendah pada kopi luwak mengasilkan citarasa yang superior.
Itu terjadi Karena saat proses pencernaan di perut luwak, protein tercerna dan keluar dari biji kopi. Protein pada kopi menyebabkan rasa bitter saat proses roasting. Jadi semakin rendah kadar protein dalam kopi semakin berkurang “bitterness” kopi tesebut. Kopi luwak memiliki rasa seimbang antara manis, pahit dan asam, terasa lebih lama, “fruty”, tidak cacat, tidak “earthy” karena penjaminan kebersihan saa pengumpulan biji kopi.
Penelitian oleh pakar pangan Massimo Marcone di University of Guelph di Ontario-Canada menunjukkan bahwa larutan sekresi di saluran pencernaan binatang luwak meresap hingga ke biji. Cairan sekresi ini mengandung enzim proteolytic yang memecah protein biji, menghasilkan lebih sedikit peptide dan lebih bebas asam amino.
Karena rasa kopi banyak bergantung pada protein, ada hipotesis bahwa proses perubahan jumlah dan jenios protein di dalam biji kopi setelah ditelan oleh luwak menyebabkan keluar rasa uniknya.
Protein ini juga mempengaruhi reaksi non-enzim, reaksi Maillard Browning yang terjadi pada saat roasting. Lebih dari itu, ketika ditelan, biji kopi dalam saluran pencernaan luwak memulai tahap awal perkecambahan yang kemudian juga menurunkan tingkat kepahitannya.
Meskipun mempunyai potensi ekonomi yang luar biasa, ternyata tidak serta merta industri luwak coffee indonesia bebas bermasalah. Inilah tantangannya! Mampu tidak kita mengembangkan peluang ini menjadi sebuah industri rakyat yang profitable.
Tentu tergantung dari kesiapan kita. Seperti diketahui, ternyata industry kopi luwak baru dilakukan oleh pengusaha skala kecil dan menengah sehingga masih terkendala pemasaran, permodalan, promosi, serta research and development (R&D).
Pemasaran adalah hal yang sangat klasik karena umumnya pengusaha kecil dan menengah masih bermain di pasar local. Padahal dengan harga luwak kaffee yang selangit, konsumen lokalnya pasti sangat terbatas. Permodalan adalah sisi lain persoalan usaha kecil menengah apalagi biaya memelihara musang ternyata sangat mahal.
Kira-kira bisa menghabiskan 1,5 juta rupiah per bulan/ekor sehingga rata-rata petani hanya mampu memelihara 4 ekor luwak. Untuk menghasilkan jumlah luwak white coffee yang banyak tentu diperlukan banyak luwak sehingga juga perlu modal usaha yang banyak.
Sekalipun sudah cukup tertolong oleh promosi Oprah Winfrey dan publikasi oleh Guinness Book of Record dan majalah Forbes, tetapi tidak cukup. Tetap perlu promosi yang lebih gigih lagi.
Kalau tidak dipromosikan dengan gigih dan sungguh-sungguh bukan tidak mungkin bahwa masyarakat akan melihatnya bahwa kelezatan aroma kopi luwak hanyalah sebuah dongeng atau isapan jempol semata sehingga lambat laun mungkin akan tergeser oleh aroma Cappucino, Lathe dan sebagainya.
Pendek kata harus diciptakan brand image bahwa luwak is the best coffee in the world!. Di tambah lagi banyak orang bule yang minum luwak coffee bali ketika berada di bali.



{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }
Posting Komentar